Rabu, 25 September 2013

Jadi Dosen

Jadi, tadi ketika saya mengikuti briefing untuk memasuki Trimester 12 di kuliah S2 ini, saya dan teman-teman mendapat informasi bahwa tahun depan, selama 6 bulan kami wajib memenuhi syarat turunnya ijazah S2, yakni menyerahkan sertifikat "Communication Skill", yang dapat diperoleh dari aktivitas mengajar sebagai dosen atau asisten laboratorium. Sulit membayangkan bagaimana rasanya menjadi seorang dosen, saya yang terbiasa diajar, kini harus mengajar. Yang terbiasa di-murid-kan, kini harus me-murid-kan.

Bagaimana jika apa yang selama ini sering saya lakukan terhadap dosen saya, harus juga menimpa saya? Bagaimana jika saya harus menempuh perjalanan ke kampus dengan diiringi doa para mahasiswa saya, yang berharap saya berhalangan mengajar? Bagaimana saya menghadapi beberapa mahasiswa yang "tidak sepaham" dengan saya? Bagaimana saya harus membangunkan mahasiswa saya yang terang-terangan mengobrol, bahkan tidur, di hadapan saya saat saya mengajar? Haruskah saya menyuruhnya berdiri di depan kelas, mengangkat kakinya sebelah sambil memegang kedua telinga dengan tangan bersilang? Lantas saya tersadar, saya akan menjadi dosen, bukan guru SD. Terlebih saya sadar, bahwa apa yang nantinya mahasiswa saya lakukan, adalah hal yang mungkin baru-baru ini saya lakukan.

Menyesal? Ya, ada rasa itu. Namun ada juga rasa senang, karena rupanya Tuhan dengan kebijaksanaan-Nya tetap mempercayakan tugas ini kepada saya, terlepas dari kebiasaan-kebiasaan saya sebagai mahasiswa. Sedih? Ada juga. Karena memang menyedihkan hal-hal yang telah saya lakukan sebagai mahasiswa, setidaknya beberapa diantaranya.

Entahlah. Apakah saya harus senang? Harus sedih? Atau harus menyesal?
Mungkin tidak ketiganya. Mungkin yang terpenting adalah menghadapi semuanya dengan kerelaan dan keyakinan, bahwa tidak ada kata terlambat untuk berubah.

Rabu, 18 September 2013

Kenapa Saxophone?

Ya, barangkali banyak yang bertanya. Kenapa saya pada akhirnya memilih saxophone sebagai instrumen musik favorit saya?

Sejak SD, saya mulai merasa memiliki bakat di bidang musik. Dengan pianika, saya berhasil memainkan beberapa jingle dari film, iklan, dan lagu-lagu Sekolah Minggu yang saya dengar di gereja. Tapi, saya layaknya seorang bocah, belum mengerti mengenai panggilan hidup maupun masa depan. Jadi ya saya nikmati saja "anugerah Tuhan" ini.

Lalu saat duduk di bangku SMP, ibu saya mengkursuskan saya piano & organ. Saat kursus, saya merasa bahwa musikalitas saya terus diasah. Pembekalan teori musik & latihan terus-menerus membuat saya semakin menikmati talenta yang diberikan Tuhan pada saya ini. Bersyukur? Ya, saya bersyukur sekali. Namun, kursus yang saya ikuti tidak berlangsung lama. Dikarenakan kendala akademis di sekolah, plus kejenuhan saya pribadi yang merasa seperti "diarahkan" ke genre musik yang tidak terlalu saya suka, saya memutuskan untuk berhenti kursus. Namun, apa yang saya pelajari di masa kursus yang singkat itu, terus saya latih & simpan baik-baik.

Saya memiliki seorang sahabat yang saya pikir, kemampuan bermain pianonya cukup baik. Lalu saya coba mendekatinya dan berniat belajar darinya. Well, saya betul-betul berhutang kepadanya. Ia mengajarkan kepada saya semua yang ia tahu dan, sesuatu yang saya tidak dapatkan di tempat kursus, suasana yang friendly.

Hingga saya duduk di bangku SMA, saya terus mengasah kemampuan saya di bidang musik ini, sekalipun hanya saya jadikan hobby di sela-sela waktu belajar. Pada waktu itu, nuansa musik yang jazzy sedang melanda jiwa para kawula muda saat itu. Kehadiran grup musik Maliq & D'Essentials cukup mempengaruhi gaya bermusik yang dijumpai saat saya SMA. Saya pun mulai merasa tertarik dengan musik Jazz. Dan belakangan saya ketahui bahwa memang di genre inilah saya mendedikasikan seluruh gaya bermusik saya, meski saya tetap menyukai musik Pop-romantis. Banyak teman-teman di sekolah yang menolong saya untuk mengenal dan mempelajari musik Jazz, mulai dari referensi lagu, pendekatan chord, hingga sejarah musik Jazz itu sendiri. Meski demikian, jujur semasa SMA hampir tidak satupun festival musik Jazz yang pernah saya datangi karena kendala biaya & waktu.

Ketertarikan saya pada saxophone dimulai ketika saya duduk di bangku perguruan tinggi. Pada saat itu, saya memiliki beberapa teman yang cukup idealis mengenai musik, khususnya musik Jazz. Ketika saya mendengar beberapa instrumen saxophone dari beberapa artis seperti Dave Koz & Kenny G, saya mulai jatuh hati dengan instrumen ini. Di saat yang sama, saya menemukan fakta bahwa instrumen ini memiliki harga yang cukup menengah keatas, hehehe. Namun, dimana ada doa, keyakinan dan usaha yang sungguh-sungguh, disitu selalu ada jalan.

Akhirnya, dengan bantuan seorang sahabat, saya bisa membeli sebuah alto-saxophone, sekalipun second-handed.

Saya membeli saxophone di tempat yang sudah cukup terkenal, khususnya di internet dan media sosial. Namanya adalah Rumah Tiup (alamat resminya dapat dilihat disini). Kalau beli di Rumah Tiup, akan diajari gratis, sampai bisa. Selanjutnya bisa dikembangkan dengan jalan kursus atau autodidak. Saya sih, sementara ini memilih jalan yang kedua, hehehe.

Sekedar sharing, 2 bulan hingga 3 bulan pertama mempelajari alat tiup ini, adalah waktu-waktu penuh frustasi. Namun, keinginan di hati ini sudah bulat. I love jazz music, and saxophone is the mostly jazz identity. Dan tanpa terasa, hampir menginjak 2 tahun saya bersama dengan alat musik ini. Belum ada apa-apanya, segala sesuatunya masih belajar. Belajar memainkan, juga belajar merawat. Puji Tuhan, dengan alat musik ini saya punya pengalaman yang lebih dengan dunia musik dan hiburan. Alat musik ini juga yang "mempertemukan" saya dengan musisi-musisi hebat. Sekalipun untuk saat ini, saya tetap menjadikan musik sebagai hobby, pelepas kejenuhan.

I love saxophone, the way it looks, and the way it sounds.